Implementasi Marketing With Meaning Pada Program Dove Sisterhood
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Perjalanan
waktu telah membuat model pemasaran berubah. Ketika paradigma marketing
bergeser dari marketing 1.0 ke marketing 2.0, dari product centric ke
customer centric era, dunia seakan mendatar. Tidak ada lagi siapa yang
di atas dan siapa yang di bawah. Tidak ada lagi kekuasaan produsen untuk
menjejalkan apa yang mereka jual kepada konsumen karena konsumen
semakin banyak tahu dan banyak pilihan.
Posisi produsen dan konsumen
kini sejajar. Tidak ada lagi informasi yang bersifat indoktrinasi. Akses
informasi yang begitu mudah dan cepat membuat konsumen semakin kritis.
Pemerhati marketing 2.0, Paul Beelen dalam www.paulbeelen.com
mengingatkan bahwa tradisi word of mouth kini makin berkuasa karena
dukungan para netter. Web 2.0 merupakan generasi terbaru teknologi web
interaktif yang bermetamorfosa ke dalam berbagai bentuk situs jejaring
sosial, seperti blog, RSS, facebook, dan lain-lain. Perubahan itu
mendorong terjadinya metamorfosa di dunia marketing, yakni dari model
pemasaran marketing 1.0 yang bersifat satu arah berubah menjadi
marketing 2.0 yang bersifat dua arah.
Kehausan publik terhadap
informasi membuat perubahan begitu cepat. Informasi yang didapat publik
langsung atau tidak langsung akan mengubah persepsi terhadap dunianya.
Ini tentu saja akan membawa perubahan pada dunianya. Karena itu, bila
saat ini publik menilai kehebatan marketing 2.0, bukan tidak mungkin
dalam waktu dekat akan ditinggalkan. Menurut Hermawan Kartajaya,
pemasaran saat ini tidak hanya diterjemahkan dalam pengertian
positioning, differensiasi dan merek yang dibungkus dalam identitas
merek, integritas merek dan menghasilkan citra merek. Di dalam buku
Marketing 3.0 : Values-Driven Marketing, Philip Kotler dan Hermawan
Kartajaya mengatakan perusahaan seharusnya tidak hanya memasarkan produk
dengan manfaat fungsional ataupun manfaat emosional, melainkan harus
pula menonjolkan manfaat spiritual.
Dalam buku The Next Evolution of
Marketing : Connect With Your Customer by Marketing With Meaning, Bob
Gilbreath mengatakan bahwa tradisional marketing kini sudah out of date
karena kecanggihan publik yang mengkonsumsi sesuatu untuk menghindari
strategi marketing, bahkan menggunakan media sosial sekalipun. Itu
sebabnya dalam marketing communication mendatang mengandalkan digital
saja tidak cukup kuat. Ini karena publik akan selalu menemukan cara
untuk menghindari bombardir pesan-pesan pemasaran yang seringkali
mengganggu. Bob Gilbreath meyakini bahwa di saat konsumen bisa secara
aktif memilih untuk menghindari marketing, satu-satunya cara untuk
menang adalah dengan menciptakan marketing di mana konsumen akan secara
aktif memilih untuk terlibat.
Bob Bilbreath menyebut strategi seperti
itu sebagai Marketing With Meaning. Gilbreath mendefinisikan marketing
with marketing sebagai marketing yang memberikan nilai tambah (adding
value) kepada masyarakat. Meaningful marketing bukanlah pro bono
marketing atau sesuatu dilakukan tanpa berharap imbalan. Sebaliknya,
bukan pula cause marketing, meskipun cause marketing dapat meaningful
juga yang terang-terangan diciptakan untuk memaksa konsumen membeli
produk dengan iming-iming sekian rupiah dari harga jual akan disalurkan
sebagai charity. Gilbreath memaparkan teori meaningful marketing yang
diklaimnya merupakan evolusi strategi marketing selanjutnya setelah
digital marketing.
Gilbreath membuat hierarki meaning yang terdiri
atas tiga tingkatan di dalam sebuah segitiga. Konsep ini merupakan
perpaduan antara hierarki kebutuhan Abraham Maslow dan hierarki ekuitas
merek di mana merek menempel di hati pikiran publik.
Inilah
metamorfosa dari konsep marketing 2.0. marketing with meaning adalah
strategi bersaing dengan menawarkan sesuatu yang berarti bagi pelanggan
pada saat mereka benar-benar membutuhkan, bahkan ketika mereka belum
menjadi pelanggan. Banyak perusahaan yang telah melakukannya. Salah
satunya adalah Unilever Indonesia melalui program Dove Sisterhood yang
dimulai Oktober 2009 hingga Maret 2010.
Dove Sisterhood adalah sebuah
komunitas di mana para perempuan pengguna Dove Hairtherapy yang Dove
sebut sebagai Sister bisa saling berbagi. Di komunitas ini, Sister bisa
berbagi informasi mengenai kesehatan dan kecantikan rambut, baik dari
Dove Expert maupun sesama Sister, sehingga Sister bisa selalu tampil
penuh percaya diri dengan rambutnya yang bebas kerusakan. Selain itu, di
sini Sister juga bisa sharing berbagai macam informasi menarik seputar
dunia perempuan.
Harapan Dove adalah melalui Dove Sisterhood, Sister
bisa menjadi Amazing Woman, yaitu perempuan yang tampil percaya diri
dengan kecantikannya yang unik, serta memiliki kekuatan untuk membantu
sesama Sister lainnya. Kali ini Dove Sisterhood mengajak para Sister
untuk membantu para “Perempuan Kepala Keluarga” yang tergabung dalam
Yayasan PEKKA (Perempuan Kepala Keluarga).
1.2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep marketing with meaning?
2. Bagaimana implementasi marketing with meaning pada program Dove Sisterhood?
1.3. Tujuan Penulisan Makalah
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk menjelaskan tentang :
1. Konsep marketing with meaning.
2. Implementasi marketing with meaning pada program Dove Sisterhood.
BAB II
MARKETING WITH MEANING
2.1. Konsep Marketing With Meaning
Secara
terminologi, meaningful marketing kelihatannya sama saja dengan
strategi marketing dengan value proposition yang sangat berarti
(meaningful) buat customer-nya. Namun meaningful marketing versi Bob
Gilbreath bukanlah perkara value proposition produk yang meaningful,
melainkan persoalan value added yang menyertai produk itu yang
meaningful, yang tidak hanya bisa dinikmati pelanggan, melainkan juga
oleh target market yang belum membeli produk tersebut atau belum menjadi
customer. Value added itu bisa menciptakan kedekatan yang pada
akhirtnya bisa menggiring target market menjadi pelanggan setia.
Menurut
Bob Gilbreath, “Marketing with meaning is the antidote to opting out;
it adds value to people’s lives independent of purchase. It’s marketing
that is often more meaningful than the product it aims to sell”. Menurut
Davy Tuilan, Managing Direktur PT. Ford Motor Indonesia, meaningful
marketing adalah suatu kegiatan pemasaran atau suatu konsep pemasaran
yang betul-betul bisa memberikan value bagi produsen, stakeholder,
konsumen, pemerintah dan sistem, dan hal ini bisa memberikan dampak
positif kepada brand. Stefan Orlander, Global Director For Brand
Connection Nike berpendapat bahwa “If we can do something to benefit our
consumers and serve the needs of athletes to perform better, they will
return to our brand.”. Jika kita dapat melakukan sesuatu yang bermanfaat
bagi konsumen-konsumen kita dan melayani kebutuhan-kebutuhan dari
atlit-atlit dengan lebih baik, mereka akan kembali ke merek kita.
Dalam
buku The Next Evolution of Marketing : Connect With Your Customer by
Marketing With Meaning, Bob Gilbreath mengatakan bahwa tradisional
marketing kini sudah out of date karena kecanggihan publik yang
mengkonsumsi sesuatu untuk menghindari strategi marketing, bahkan
menggunakan media sosial sekalipun. Itu sebabnya dalam marketing
communication mendatang mengandalkan digital saja tidak cukup kuat. Ini
karena publik akan selalu menemukan cara untuk menghindari bombardir
pesan-pesan pemasaran yang seringkali mengganggu.
Gilbreath menyebut
strategi itu sebagai marketing with meaning. Gilbreath mendefinisikan
marketing with meaning sebagai marketing yang memberikan nilai tambah
(adding value) kepada masyarakat. Gilbreath membuat hierarki meaning
yang terdiri atas tiga tingkatan di dalam sebuah segitiga. Konsep ini
merupakan perpaduan antara hierarki kebutuhan Abraham Maslow dan
hierarki ekuitas merek di mana merek menempel di hati dan pikiran
publik.
Berikut dapat dilihat perbedaan dari Marketing With Meaning dengan Direct Marketing dan Permission Marketing.
Tabel 2.1
Perbedaan Direct Marketing, Permision Marketing dan Marketing With Meaning
Direct Marketing Permission Marketing Marketing With Meaning
Approach
the consumer directly, using targeted information. Seek consumer
approval and input prior to the approach. Create marketing that invites
consumer participation.
“Advertising arrives at my home, whether I
like it or not” “I can choose wheater or not to receive relevant
advertising” “The marketing itself improves my life, so I will both
notice you and give you my business.”
“Tell and sell”
Monologue “Give and Take”
Dialogue “Value Added” benefit
Interruption Authorization Service
Focus on medium Focus on message Focus on meaning
Sumber : Bob Gilbreath, The Next Evolution Marketing
2.2. Model Marketing With Meaning
Untuk
menciptakan meaningful marketing, pertama-tama harus menentukan apa
yang secara sungguh-sungguh penting bagi target market dan apa yang
mereka cita-citakan. Secara spesifik, perlu mengungkapkan yang mana dari
kebutuhan mereka yang masih belum terpenuhi di kehidupannya. Bob
Gilbreath menyebutnya sebagai kebutuhan tingkat tinggi.
Ada tiga
tingkatan meaningful marketing yang merupakan hasil penggabungan dua
teori, yaitu teori hierarki kebutuhan dasar manusia versi Abraham
Maslow, seorang sosiolog yang memotret kebutuhan tingkat tinggi konsumen
dan teori hierarki ekuitas merek, sebuah alat yang sering digunakan
marketers untuk menunjukkan di level mana brand mereka berada di dalam
hati dan pikiran konsumen.
Gambar 2.1 Both Brands and People Seek Higher Meaning
Sumber : Bob Gilbreath, The Next Evolution Marketing
Dengan
kata lain, meaningful marketing adalah mempertemukan level tertinggi
dari meaningful yang dicari manusia (people seek higher meaning), dari
level phsycological, safety, love/belonging, sampai self actualization,
dan level tertinggi dari meaningful yang ingin dicapai brands (brands
seek higher meaning), dari attributes, benefits, values, character,
sampai equity.
Perpaduan dua bentuk hierarki di atas menghasilkan tiga tingkatan meaningful marketing, yaitu :
Gambar 2.2 The Hierarchy of Meaningful Marketing
Sumber : Bob Gilbreath, The Next Evolution Marketing
Hirarki
dari meaningful marketing (lihat Gambar 2.2) merupakan perpaduan antara
kebutuhan-kebutuhan konsumen tingkat tinggi dengan hierarki merek yang
sesuai, menghasilkan tiga strata tentang pemasaran yang terus meningkat
penuh arti kepada konsumen-konsumen.
1. Solution marketing, yang
meng-covers kebutuhan dan manfaat dasar rumah tangga seperti penawaran
yang membantu dan penghematan uang.
2. Connecting marketing,
merepresentasikan langkah yang signifikan menuju pembangunan hubungan
yang erat (bonding relationship) antara people dan brands. Ini mendekati
kategori love/belonging-nya Maslow, yaitu menyediakan benefit di luar
kebutuhan informasi yang mendasar dan relevan dengan sesuatu yang
penting dalam benak konsumen, seperti social outlet dan ekspresif
kreatif.
3. Achievement marketing, berhubungan dengan self
actualization-nya Maslow, yaitu marketing dengan cara memungkinkan orang
untuk signifikan memperbaiki kehidupan mereka, merealisasikan sebuah
mimpi, atau secara positif mengubah komunitas atau dunia mereka.
Gambar 2.3 Kerangka Pemikiran Marketing With Meaning
Berdasarkan
model pendekatan masalah pada gambar 2.3 di atas, untuk menciptakan
meaningful maketing, seorang marketer harus mengetahui kebutuhan apa
yang dicita-citakan oleh konsumen terhadap suatu produk atau merek yang
dapat menciptakan sesuatu meaningful bagi konsumen sendiri. Perpaduan
antara tingkatan merek dengan hirarki kebutuhan dapat menghasilkan
pemasaran yang penuh arti (meaningful marketing) bagi konsumen, dan
berdampak pada terciptanya kepuasan dan meningkatnya loyalitas konsumen
itu sendiri.
BAB III
IMPLEMENTASI MARKETING WITH MEANING PADA PROGRAM DOVE SISTERHOOD
3.1. Profil Perusahaan
Type
Public
(Chairman)
Michael Treschow
(Vice Chairman)
Baron Simon
(CEO)
Paul Polman
Industry Conglomerate Products See brands listing Revenue
€40.523 billion (2008)
Operating income
€8.386 billion (2008)
Net income
€5.285 billion (2008)
Employees
174,000 (2008)
Website
www.unilever.com
gambar 3.1. Logo Dove
Dove
adalah merek perawatan pribadi yang dimiliki oleh Unilever. Dove
terbuat dari surfaktan sintetis, serta beberapa minyak sayur yang
berbasis bahan sabun, seperti natrium kernelate sawit. Dove dirumuskan
untuk menjadi pH netral, dengan pH yang biasanya antara 6,5 dan 7,5.
Produk
Dove yang diproduksi di Belanda, Amerika Serikat, Jerman, Irlandia,
Australia, dan Brasil. Dove merek dagang dan merek saat ini dimiliki
oleh Unilever. Logo Dove adalah profil siluet suatu merpati, warna yang
sering bervariasi.
Produk Dove meliputi: antiperspirants / deodoran, sabun, lotion / pelembab, perawatan rambut dan produk perawatan wajah.
Di
AS, sabun batangan Dove saat ini diproduksi untuk melembabkan kulit,
cocok digunakan untuk kulit sensitif, tidak diberi wewangian, nutrium
bergizi, dan berwarna putih.
3.2. Sejarah Dove
Dove telah
memposisikan sepanjang sejarahnya tanpa menyebut sebagai "sabun", tetapi
sebagai suatu "beauty bar" dengan seperempat krim pembersih, untuk
melembabkan kulit ketika mandi, kontras dengan efek pengeringan sabun
biasa (yang hanya "sabun").
Pesan iklan diperkuat oleh Bossing krim
yang dituangkan ke dalam ”beauty bar”. Pada tahun 1979, kalimat "krim
pembersih" digantikan dengan "krim pelembab". Pada tahun 1979, seorang
dokter dari Pennsylvania menunjukkan bahwa Dove cocok untuk kulit kering
dan kulit yang teriritasi secara signifikan kurang dari sabun biasa.
Sebagai hasil dari studi ini, Unilever mulai agresif memasarkan dan
memenangkan lebih dari 24% dari market share di tahun 2003.
3.3. Promosi Penjualan Dove
Pada
tahun 2006, Dove memulai Dove Self-Esteem Fund. Memiliki tujuan sebagai
agen perubahan untuk mendidik dan mengilhami para wanita pada definisi
yang lebih luas tentang kecantikan dan untuk membuat mereka merasa lebih
percaya diri tentang diri mereka sendiri. Sampai hari ini, Dove telah
menciptakan sejumlah online hanya sebagian besar film-film pendek,
termasuk Daughters (yang juga disiarkan di 75 titik detik selama Super
Bowl XL), Evolution (yang memenangkan dua penghargaan di Cannes Lions
International Advertising Festival), Onslaught, dan Amy.
Gambar 3.2. Logo Dove Sisterhood
Dove
sebagai ahli perawatan rambut rusak (Damage Care Expert) yang mengerti
kebutuhan perempuan, paham bahwa perempuan memiliki semangat berbagi dan
keterikatan antara sesamanya yang sangat kuat (Sister Helps Sister).
Semangat berbagi dan saling membantu ini tidak hanya untuk masalah
kecantikan, tapi juga untuk menolong perempuan lain untuk menjadi lebih
baik dan kuat dalam hidupnya.
Dove Sisterhood adalah sebuah
komunitas di mana para perempuan pengguna Dove Hairtherapy yang Dove
sebut sebagai Sister bisa saling berbagi. Di komunitas ini, Sister bisa
berbagi informasi mengenai kesehatan dan kecantikan rambut, baik dari
Dove Expert maupun sesama Sister, sehingga Sister bisa selalu tampil
penuh percaya diri dengan rambutnya yang bebas kerusakan. Selain itu, di
sini Sister juga bisa sharing berbagai macam informasi menarik seputar
dunia perempuan.
Harapan Dove adalah melalui Dove Sisterhood, Sister
bisa menjadi Amazing Woman, yaitu perempuan yang tampil percaya diri
dengan kecantikannya yang unik, serta memiliki kekuatan untuk membantu
sesama sister lainnya. Kali ini Dove Sisterhood mengajak para Sister
untuk membantu para “Perempuan Kepala Keluarga” yang tergabung dalam
Yayasan PEKKA (Perempuan Kepala Keluarga).
Para “Perempuan Kepala
Keluarga” ini adalah perempuan dengan ekonomi lemah yang karena berbagai
hal, seperti ditinggal suami meninggal, bercerai, atau menggantikan
fungsi ayah yang tidak mampu mencari nafkah lagi, harus mengambil alih
peran mereka sebagai tulang punggung keluarga. Oleh Yayasan PEKKA, para
Perempuan Kepala Keluarga ini dibantu melalui pelatihan ketrampilan,
pendidikan, dan pelatihan-pelatihan lain nya untuk bisa hidup mandiri
dengan penuh percaya diri dan kuat untuk dirinya sendiri dan
keluarganya.
Dove memilih Yayasan PEKKA beserta anggotanya untuk
dibantu oleh para Sister, karena Dove percaya para Sister memiliki
semangat yang sama dengan para perempuan ini, yaitu semangat untuk
saling berbagi, membantu sesama perempuan memiliki kekuatan untuk
bangkit dan bisa hidup dengan penuh percaya diri.
Oleh karena itu,
Dove mengajak para Sister untuk bergabung dan mendukung gerakan Dove
Sisterhood ini, sehingga kita bisa menolong para “Perempuan Kepala
Keluarga” untuk menjadi “Amazing Single Mom”. Tentunya semakin banyak
Sister yang bergabung dalam Dove Sisterhood, semakin banyak pula
“Perempuan Kepala Keluarga” yang kita bantu.
Rangkaian program Dove
Sisterhood ini berlangsung mulai dari pertengahan bulan Oktober 2009
hingga Maret 2010. Dove Sisterhood akan ditutup dengan penyerahan donasi
serta penyelenggaraan kegiatan pelatihan dan operasional bagi para
perempuan kepala keluarga sebagai bentuk realisasi penggunaan donasi.
Selain beramal dengan menolong perempuan lain, tentunya Dove Sisterhood
juga memberikan banyak manfaat untuk para anggota Dove Sisterhood, serta
kesempatan memenangkan hadiah dengan nilai total jutaan rupiah dan
kesempatan tampil bersama Maia Estianty di testimonial Dove berikutnya
untuk 5 anggota Dove Sisterhood yang memiliki anggota terbanyak.
Untuk
merekrut para perempuan Indonesia yang ingin menjadi ”Amazing Woman”
dengan menolong sesama (Look Good By Doing Good), Dove akan mengadakan
Road Show yang akan diselenggarakan di sepuluh 10 universitas yang
tersebar di Bodetabek, Bandung, Yogyakarta, dan Malang. Selain Road
Show, para perempuan Indonesia yang ingin bergabung menjadi bagian dari
komunitas Dove Sisterhood dan mengembangkan timnya juga dapat
mendaftarkan dirinya secara online melalui website resmi Dove Sisterhood
di www.DOVE-sisterhood.com.
3.4. Implementasi Marketing With Meaning Pada Program Dove Sisterhood
Gambar 3.3. Model Pendekatan Masalah
Marketing With Meaning Pada Program Dove Sisterhood
Dove
merupakan merek kecantikan wanita yang dimiliki oleh Unilever.
Berdasarkan tingkatan merek menurut Kotler dan Amstrong (2008), sebuah
merek terdiri dari attributes, benefits, values, character dan equity.
Dove dikenal sebagai sabun kecantikan dan kesehatan wanita. Konsumen
Dove tidak hanya melihat bahwa Dove adalah produk dari Unilever, tetapi
manfaat dan nilai-nilai yang diberikan oleh produk tersebut. Bahkan pada
tahun 2003 memenangkan lebih dari 24% dari market share.
Untuk
memberikan sesuatu yang meaningful kepada pelanggannya, pertama-tama
Dove harus mengetahui kebutuhan dari pada pelanggannya, yaitu kaum
perempuan. Kebutuhan dari kaum perempuan tersebut ialah tentang
kecantikan. Definisi cantik menurut dunia barat adalah langsing, putih,
muda dan blonde. Selama puluhan tahun, paham itu telah meracuni benak
kaum perempuan di seluruh dunia yang disebarkan melalui majalah-majalah
wanita dan dunia fashion. Akibatnya, korban-korban anorexia dan bulimia
bergelimpangan di Eropa dan Amerika, terutama kalangan remaja. Hal ini
menjadi masalah yang sangat serius bagi dunia kesehatan.
Sejak awal
Dove telah menangkap bahwa menjadi cantik adalah desire (hasrat
terdalam) kolektif umat wanita. Namun ketika pemahaman tentang
kecantikan diarahkan dalam definisi yang seragam seperti proporsi boneka
Barbie yang sesungguhnya tidak ada dalam dunia nyata, nyatalah bahwa
hal itu berbahaya.
Berangkat dari kondisi yang memprihatinkan
tersebut, kampanye Dove the Real Beauty global mulai dirilis pada tahun
2000. Melalui program itu, Dove menyampaikan pesan baru yang bertolak
belakang dengan definisi kecantikan yang selama ini menjadi norma.
Kecantikan sejati datang dari dalam diri sendiri. Setiap orang berhak
merasa cantik karena masing-masing memiliki keunikan. Pesan ini kemudian
diaplikasikan dalam program yang bertujuan untuk menanamkan definisi
cantik berdasarkan konsep kepercayaan diri di benak para remaja putri.
Dengan wadah yayasan bernama Dove Self-Esteem Fund yang didirikan di
beberapa Negara, Dove bergerak melakukan edukasi ke kalangan remaja.
Di
Indonesia, yayasan ini dipandang belum perlu karena potensi penyakit
psikologis kronis akibat takut gemuk tersebut dinilai belum terlalu
besar. Karena itu, tim Dove dari Unilever Indonesia berusaha mencari
program lain guna menerjemahkan pesan the real beauty. Tetap dalam
benang merah untuk memberikan the meaning of life bagi konsumen, pada
bulan Oktober 2009 lalu akhirnya dibesut program Dove Sisterhood.
Kampanye ini merupakan lanjutan program Dove Hairtherapy yang
memposisikan diri sebagai ahli perawatan rambut rusak.
Tim Dove
global telah memiliki white paper sebagai panduan untuk menangkap
aspirasi konsumen, apa yang mereka rasakan dan bagaimana nafasnya.
Berdasarkan white paper tersebut, Dove Indonesia menemukan insight bahwa
wanita selalu mencari rekomendasi dari teman-temannya dalam memilih
produk kecantikan. Jika sudah memiliki kepercayaan diri yang dimulai
dari rambut sehat, dia akan dengan senang hati memberikan rekomendasi
untuk membantu sahabat atau perempuan lainnya agar tampil percaya diri
seperti dirinya.
Melihat fenomena seperi itu, Dove mencoba memberikan
sesuatu yang meaningful dengan memberikan sesuatu yang lebih berarti
bagi konsumennya. Perwujudan dari meaningful marketing Dove adalah
sebagai berikut :
1. Dove memberikan informasi yang berharga bagi
standar kecantikan perempuan, yaitu bahwa kecantikan sejati itu (the
real beauty) datang dari dalam diri sendiri. Setiap perempuan berhak
merasa cantik karena masing-masing memiliki keunikan. Pesan yang
disampaikan Dove ini merupakan sebuah solusi bagi wanita tentang
definisi cantik, tidak seperti yang ditegaskan selama berpuluh-puluh
tahun yang lalu bahwa cantik itu langsing, putih, muda dan blonde.
2.
Dove menciptakan program Dove Sisterhood sebagai wadah untuk membangun
hubungan antara konsumen dan perusahaan. Dengan adanya hubungan yang
erat antara konsumen dan perusahaan, maka perusahaan akan dapat
menangkap aspirasi konsumen, apa yang mereka rasakan dan bagaimana
pengalamannya menggunakan produk mereka.
3. Dengan adanya program
Dove Sisterhood ini, konsumen dapat mengaktualisasikan dirinya untuk
membantu perempuan lainnya. Dengan menggalang semangat solidaritas antar
sesama perempuan untuk bergabung dalam Dove Sisterhood, Dove
berkomitmen menyumbang Rp 1000,00 untuk setiap keanggotaannya. Donasi
tersebut digunakan untuk membantu Perempuan kepala Keluarga Berekonomi
lemah di bawah asuhan LSM PEKKA (Pemberdayaan Perempuan Kepala
Keluarga). Gerakan Dove Sisterhood menyerukan semangat saling menolong
untuk menjadi “amazing woman” yang tampil percaya diri, cantik luar
dalam dengan kepribadian yang kuat (look good by doing good).
BAB IV
KESIMPULAN
Untuk
menciptakan meaningful marketing, pertama-tama harus menentukan apa
yang secara sungguh-sungguh penting bagi target market dan apa yang
mereka cita-citakan. Secara spesifik, perlu mengungkapkan yang mana dari
kebutuhan mereka yang masih belum terpenuhi di kehidupannya. Bob
Gilbreath menyebutnya sebagai kebutuhan tingkat tinggi.
Ada tiga
tingkatan meaningful marketing yang merupakan hasil penggabungan dua
teori, yaitu teori hierarki kebutuhan dasar manusia versi Abraham
Maslow, seorang sosiolog yang memotret kebutuhan tingkat tinggi konsumen
dan teori hierarki ekuitas merek. Kesimpulan dari pembahasan kasus
berdasarkan model Marketing With Meaning pada Program Dove Sistergood
adalah sebagai berikut :
1. Dove memberikan informasi yang berharga
bagi standar kecantikan perempuan, yaitu bahwa kecantikan sejati itu
(the real beauty) datang dari dalam diri sendiri. Setiap perempuan
berhak merasa cantik karena masing-masing memiliki keunikan. Pesan yang
disampaikan Dove ini merupakan sebuah solusi bagi wanita tentang
definisi cantik, tidak seperti yang ditegaskan selama berpuluh-puluh
tahun yang lalu bahwa cantik itu langsing, putih, muda dan blonde.
2.
Dove menciptakan program Dove Sisterhood sebagai wadah untuk membangun
hubungan antara konsumen dan perusahaan. Dengan adanya hubungan yang
erat antara konsumen dan perusahaan, maka perusahaan akan dapat
menangkap aspirasi konsumen, apa yang mereka rasakan dan bagaimana
pengalamannya menggunakan produk mereka.
3. Dengan adanya program
Dove Sisterhood ini, konsumen dapat mengaktualisasikan dirinya untuk
membantu perempuan lainnya. Dengan menggalang semangat solidaritas antar
sesama peremuan untuk bergabung dalam Dove Sisterhood, Dove berkomitmen
menyumbang Rp 1000,00 untuk setiap keanggotaannya. Donasi tersebut
digunakan untuk membantu Perempuan kepala Keluarga Berekonomi lemah di
bawah asuhan LSM PEKKA (Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga). Gerakan
Dove Sisterhood menyerukan semangat saling menolong untuk menjadi
“amazing woman” yang tampil percaya diri, cantik luar dalam dengan
kepribadian yang kuat (look good by doing good).
# DAFTAR PUSTAKA
* How To Evaluate Your Text Marking. Belmont, CA:Wadsworth, 2007
* http://en.wikipedia.org/wiki/Dove_(brand)
* http://www.unilever.co.id/
* Kotler, Phillip dan Gary Amstrong.2008.Prinsip-prinsip Pemasaran Edisi 12. Jakarta :Erlangga
* Majalah Mix Edisi 022 Februari 2010
* www.DOVE-sisterhood.com
* www.marketingwithmeaning.com
* http://danidena.blogspot.com/2010/05/implementasi-marketing-with-meaning.html